Kesiapsiagaan Bencana di Berau Masih Minim, BPBD Minta Dukungan Alat Deteksi Tsunami

Sabtu, 22 November 2025 10:19 WITA


NEWSNUSANTARA,TANJUNG REDEB – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau menegaskan perlunya peningkatan sistem peringatan dini untuk mencegah jatuhnya banyak korban bila musibah benar-benar terjadi.

‎Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, Nofian Hidayat, menyebut Berau berada di wilayah yang dikelilingi tiga sesar aktif yaitu Sesar Maratua, Sesar Laut Tarakan, dan Sesar Tanjung Mangkalihat.

‎Dari ketiganya, Sesar Tanjung Mangkalihat merupakan yang paling aktif bergerak sejauh ini.

‎“Berau berada di lokasi yang harus waspada. Aktivitas sesar ini nyata dan tidak bisa dianggap remeh,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

‎Ia menjelaskan bahwa Sesar Maratua terhubung dengan Ring of Fire, sehingga memunculkan potensi tsunami berskala besar pada masa mendatang.

‎“Sejujurnya, saat ini kita baru punya alat pendeteksi gempa. Itu belum cukup untuk menyelamatkan masyarakat jika tsunami benar-benar terjadi,” katanya.

‎BPBD Berau mendorong agar pemerintah memasang alat pendeteksi tsunami di sejumlah lokasi strategis.

‎“Kalau alat itu dipasang di Maratua, Derawan, Balikukup, dan Sambit, kita bisa evakuasi warga lebih cepat. Satu menit lebih cepat saja bisa menyelamatkan nyawa,” tegasnya.

‎Menurut Nofian, kendati aktivitas gempa yang terjadi sejauh ini belum terlalu besar, bukan berarti masyarakat boleh lengah.

‎“Gempa kecil hari ini bisa jadi peringatan. Kita tidak tahu kapan alam berubah drastis. Lebih baik siap sebelum terlambat,” ujarnya.

‎Ia menambahkan bahwa usulan pengadaan alat tsunami sebenarnya sudah disampaikan secara lisan meski belum diperkuat secara administratif.

‎“Saya akui, belum pernah diajukan lewat surat resmi. Tapi pembahasan langsung sudah dilakukan. Kami berharap ada tindak lanjut dari pihak di atas,” tuturnya.

‎Jika tsunami terjadi, diperkirakan wilayah terdampak terbesar di perairan adalah Maratua, Pulau Derawan, Kaniungan Besar, dan Pulau Balikukup. Sementara untuk wilayah darat meliputi Tanjung Batu, Talisayan, Bidukbiduk dan Batu Putih.

‎“Bukan teori semata. Air laut di Batu Putih pernah naik ke darat sampai warga mengungsi. Itu sinyal nyata,” jelasnya.

‎Ia juga menyoroti keterbatasan personel menghadapi kemungkinan bencana besar.

‎“Alat kurang, personel juga kurang. Kalau bencana terjadi, kami akan bekerja semaksimal mungkin, tapi harus diakui kami butuh dukungan,” ucapnya.

‎Nofian menegaskan bahwa potensi dampak bukan hanya menyasar Berau, tetapi juga provinsi tetangga.

‎“Kalau ketiga sesar bergerak bersamaan, dampaknya bisa sampai Kaltara, terutama Tarakan. Ini bukan ancaman biasa,” tutupnya.

‎Reporter : Akmal

Baca Juga  Faskes RSU Talisayan Masih Jadi Sorotan Dewan, Pemkab Diharap Lebih Cekatan
Bagikan:
Berita Terkait