Dalam Mengedukasi Warga Untuk Membatik Dengan Warna Alami, Pemkab Malang Mengandeng PLTK

NEWSNUSANTARA.COM – MALANG –   Pemkab Malang mengedukasi warga untuk menggunakan Produk pewarna alami. Meskipun untuk proses pengerjaannya lebih lama dan agak rumit, tapi hasilnya lebih ramah bagi lingkungan. Nilai jualnya pun juga lebih tinggi dibanding pewarna buatan.
Teknik untuk membatik menggunakan pewarna alami yang dipelajari 30 pengrajin batik. (LKP) Lembaga Keterampilan Pendidikan Jayanti, Desa Ngadirejo, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Kegiatan ini digelar Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan (PTLK) di bawah  pimpinan Direktorat Jenderal  Kebudayaan Kemendikbudristek. Peserta antusias belajar selama 4 hari dimulai tanggal 26 hingga 29 Juli lalu.
penggunaan pewarna alami ini masih jarang sekali dilakukan oleh para pengrajin batik. ”Biasanya pewarnaan sintetis menggunakan zat warna remasol yang menggunakan dari bahan kimia,” ujar Yudi Wahyudin.
Dia mengatakan, para peserta pelatihan diajari bagaimana cara untuk menghasilkan pewarna alami. Mulai dari kulit kayu tingi, indigofera hingga pemanfaatan pisang busuk. “Tumbuh-tumbuhan di sekitar kita juga bisa menghasilkan warna yang sangat bagus jika tau dan mampu untuk  mengolahnya,” tambahnya
Kepala LKP Sri Nasifah juga menambahkan, “tumbuhan indigofera bisa menghasilkan warna biru dengan dicampur pisang busuk sebagai penguat atau pengunci dalam warna. “Pisang juga bisa dijadikan alat untuk menghasilkan warna agar lebih bagus,”
Sementara kulit kayu tingi juga  bisa menghasilkan warna kemerah-merahan. “Ada juga pohon Jalawe, kulitnya bisa menghasilkan warna kuning buram atau ke kuning kuningan,” tambah Nasifah.
Semoga dengan adanya kegiatan ini masyarakat lebih bisa memanfaatkan pewarna alami dari alam dan bisa memotivasi masyarakat luas sehingga bisa menjadi daya tari atau icon untuk Kabupaten Malang. Tandasnya (Hmz).