NEWSNUSANTARA,BALIKPAPAN-Tragedi kapal feri Dharma Kartika IX yang mengalami kemiringan di Pelabuhan Semayang, Balikpapan, Selasa (27/1), meninggalkan luka mendalam bagi keluarga penumpang yang meninggal dunia. Suasana haru dan tangis pecah saat para kerabat masih berusaha menerima kenyataan pahit kehilangan orang tercinta secara tiba-tiba.
Salah satu keluarga korban, Ibu Batang, mengatakan dua korban bernama Dina dan Nurlina saat itu sedang melakukan perjalanan untuk pindah tempat tinggal. Keduanya berangkat dari Pare-Pare, Sulawesi Selatan, menuju Gerogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, dengan rute transit di Balikpapan.
“Anak saya itu rencananya pindah rumah. Dari Pare-Pare ke Balikpapan dulu, baru lanjut ke Gerogot,” kata Ibu Batang dengan suara terbata-bata saat ditemui di RS Bhayangkara Balikpapan, Rabu (28/1).

Ia menuturkan, kepindahan tersebut dilakukan untuk memulai hidup baru bersama keluarga di Gerogot. Namun, perjalanan yang seharusnya menjadi awal yang baik justru berubah menjadi musibah, ketika kapal yang mereka tumpangi tiba-tiba miring sesaat sebelum merapat ke dermaga.
Kesaksian juga disampaikan Ibu Bulan, yang berada di lokasi kejadian. Ia menceritakan situasi mencekam saat kapal mulai oleng. Menurutnya, ia bersama dua orang lainnya, termasuk korban, sudah bersiap turun karena kapal akan bersandar.
“Kami bertiga sudah turun karena kapal mau sandar, tapi tiba-tiba kapal miring. Saya sempat ditarik orang, sedangkan dua korban tertimpa barang dari truk,” ungkapnya.
Ia menyebut, kondisi di dalam kapal mendadak panik. Muatan di dek kendaraan bergeser dalam waktu singkat dan mengenai penumpang yang berada di sekitarnya. Meski sempat ada upaya pertolongan, nyawa korban tidak berhasil diselamatkan.
Sementara itu, pihak keluarga berencana memulangkan jenazah korban ke kampung halaman di Sulawesi Selatan untuk dimakamkan. Proses pemulangan masih menunggu koordinasi lanjutan dengan pihak terkait.(/)





