Seputar Ilmu Qira’at.

BERAU,NEWSNUSANTARA-Sebagaimana kita ketahui bersama, di Timur Tengah dalam bacaan Qira’at Al-Quran ada dua madariasah besar yakni: versi Mesir dan versi Syam. Dimana kedua versi tersebut memiliki beberapaa karakteristik yang berbeda satu dengan yang lain. Namun tahukah anda? Di Indonesia juga ada versi bacaan qira’at yang sangat masyhur yakni versi Kudus. Sebenarnya tidak berlebihan jika qira’at versi Kudus disebut madariasah, karena memiliki karakteristik cara bacaan yang khusus sesuai apa yang sudah diajarkan para masyayihnya.

Sebagaimana diketahui, ulama Nusantara yang mendalami ilmu Qira’at di abad 18 adalah Syekh Mahfud At-Termasi dan KH. Muhammad Munawir-Krapayak. Hanya saja Syekh Mahfudz tetap tinggal di Mekah dan mengajar di sana, sedangkan Romo KH. Muhammad Munawir setelah menyelesaikan pelajarannya kembali ke tanah air. Setelah mendirikan pondok tanfidz, banyak santri yang belajar kepada beliau. Namun dari sekian banyak santri beliau, hanya ada satu santri yang bisa menyelesaikan Qira’at Sab’ah dan mendapaatkan ijazah dan ijin mengajarkanya. Hal ini karena ilmu qira’at, pada waktu itu termasuk ilmu yang baru di Indonesia. Selain itu juga karena sedikitnya rujukan yang dapat digunakan santri untuk mempelajarinya, sehingga membutuhkan waktu lama untuk dapat memahami dan menghafalkanya.

Satu-satunya santri beliau yang menghantamkan itu adalah Romo KH. Muhammad Arwani Kudus. Dari tangan beliau ini telah khatam 16 santri, yang nantinya menjadikan ulama besar yang menyebarkan Qur’an dan ilmu qira’at di Nusantara. Dari para santri tersebut maka bacaan dari  jalur Kudus lebih Masyhur daripada jalur yang lai

n. Selain itu sanad periwayatan qira’at Sab’ah juga kebanyakan dari para santri Kudus. Walaupun banyak peneliti qira’at generasi baru yang mengritisi cara pengucapaan aliran Kudus, tapi perlu diperhatikan, bahwasanya bacaan tersebut diriwayatkan secara turun-temurun dari para masyayikh secara mutawatir.

Selain itu Mbah Arwani, demi menjaga keotentikan proses talaqqinya beliau mencatatnya menjadi sebuah yang bernama “Faidhul Barokat” sehingga seseorang yang membaca kitab tersebut seakan-akan melihat rekaman bagaimana proses belajar beliau dan para ulama abad terdahulu ketika belajar qira’at. Untuk membantu memudahkan dalam belajar ilmu qira’at, baik Sab’ah maupun ‘Asyr, ada beberapa rujukan kitab, salah satunya yaitu kitab “Al-Muyassar fi Jam’il Qira’atil ‘Asyr” sebanyak 9 jilid.

sumber:berbagai sumber.