NEWSNUSANTARA.COM ,Di tengah gempuran digitalisasi ekonomi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menjadi penopang utama roda perekonomian Indonesia. Ketika pandemi sempat melumpuhkan sektor industri besar, UMKM justru muncul sebagai penyelamat dengan menjaga lapangan kerja dan menopang pendapatan masyarakat.
Namun, di balik ketangguhan itu, sebagian besar pelaku UMKM masih menghadapi persoalan klasik: lemahnya pencatatan keuangan dan minimnya penerapan Sistem Informasi Akuntansi (SIA) yang memadai.
Padahal, di era digital, kemampuan mengelola data keuangan secara cepat dan akurat bukan lagi pelengkap, melainkan fondasi utama keberlanjutan usaha. Sistem Informasi Akuntansi kini menjadi tulang punggung dalam pengambilan keputusan bisnis yang strategis dan berbasis data.

Masalah Klasik UMKM: “Tidak Tahu Uangnya Ke Mana”
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang, Afridayani, S.E., M.M., M.Ak., mengungkapkan, banyak UMKM masih mencatat transaksi secara manual bahkan hanya mengandalkan ingatan.
“Sering kali pelaku usaha mengaku omzetnya besar, tapi tidak tahu ke mana uangnya pergi. Ini karena tidak ada sistem pencatatan yang rapi,” ujarnya.
Akibatnya, pelaku UMKM sulit membedakan antara keuangan pribadi dan usaha. Kondisi ini membuat laporan keuangan menjadi tidak akurat dan strategi pengembangan bisnis pun tidak terukur.
Penelitian Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2023 mencatat, lebih dari 70 persen UMKM di Indonesia belum memiliki sistem akuntansi yang memadai, sehingga mayoritas berjalan tanpa “kompas keuangan”.
Lebih dari Sekadar Pencatatan
Afridayani menjelaskan, Sistem Informasi Akuntansi tidak hanya sebatas laporan laba rugi. Lebih jauh, SIA adalah rangkaian prosedur yang mengumpulkan, mencatat, mengolah, dan melaporkan data keuangan untuk mendukung keputusan bisnis.
Melalui penerapan SIA yang baik, UMKM dapat:
- Mengontrol arus kas dan mengetahui waktu ideal menambah modal atau menekan biaya.
- Menganalisis performa produk atau cabang berdasarkan data keuangan.
- Meningkatkan kepercayaan investor dan lembaga keuangan melalui laporan keuangan yang tertib.
- Memprediksi risiko dan peluang berdasarkan data historis.
“Keputusan yang baik lahir dari data yang valid. Dengan SIA, pelaku UMKM bisa tahu persis pos mana yang paling banyak menyerap biaya dan bagaimana cara mengefisiensikannya,” jelasnya.
Digitalisasi Jadi Kunci Bertahan
Transformasi digital membuka peluang besar bagi UMKM untuk beradaptasi. Kini, tersedia banyak aplikasi akuntansi sederhana dan terjangkau yang membantu pencatatan transaksi, manajemen stok, hingga penyusunan laporan keuangan otomatis.
Namun, tingkat adopsi masih rendah karena sebagian pelaku usaha merasa teknologi tersebut rumit. Padahal, digitalisasi justru dapat menghemat waktu, tenaga, dan biaya operasional.
Keberlanjutan Bisnis: Lebih dari Sekadar Bertahan
Menurut Afridayani, keberlanjutan bisnis (business sustainability) bukan sekadar bertahan, tetapi terus tumbuh dengan efisien, adaptif, dan akuntabel.
SIA menjadi kunci dalam mencapai tiga aspek tersebut:
- Efisiensi: mengurangi pemborosan waktu dan biaya administrasi.
- Adaptasi: menyediakan data akurat untuk inovasi produk dan strategi.
- Akuntabilitas: meningkatkan kepercayaan investor dan konsumen.
“Tanpa sistem informasi yang kuat, pelaku UMKM akan kesulitan beradaptasi di era digital yang menuntut transparansi dan kecepatan informasi,” ujarnya.
Integrasi SIA dan CRM, Strategi Cerdas UMKM
Keberlanjutan bisnis juga ditentukan oleh kemampuan membangun hubungan dengan pelanggan. Karena itu, integrasi antara Sistem Informasi Akuntansi (SIA) dan Customer Relationship Management (CRM) menjadi langkah strategis.
Kombinasi kedua sistem ini memungkinkan UMKM memahami perilaku pelanggan berdasarkan data pembelian, sehingga promosi bisa lebih tepat sasaran.
“UMKM dengan pencatatan keuangan dan data pelanggan yang rapi akan lebih mudah mendapat akses pembiayaan dari lembaga keuangan,” tutup Afridayani. Penulis: Afridayani, S.E., M.M., M.Ak.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang





