Pemkab Berau Siapkan Konsep Wisata Halal, Tegaskan Kawasan Bebas Alkohol

Sabtu, 1 November 2025 10:14 WITA

NEWSNUSANTARA,TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mulai menyiapkan konsep pariwisata halal sebagai arah baru pengembangan sektor wisata daerah.

Langkah ini diharapkan mampu memperkuat nilai budaya dan kearifan lokal dalam aktivitas pariwisata di Bumi Batiwakkal.

Wakil Bupati Berau, Gamalis mengatakan, penerapan konsep wisata halal tengah disusun secara bertahap. Namun, masih ada sejumlah aspek yang perlu diatur agar implementasinya berjalan baik dan tidak menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat.

Baca Juga  Berau Gelar Upacara Hari Pramuka ke-64, Bupati Sri Juniarsih Beri Lencana Garuda
Wakil Bupati Berau Gamalis

“Kabupaten Berau akan menuju lokasi pariwisata halal. Namun masih ada beberapa hal yang perlu diatur, salah satunya pengaturan jam malam,” ujar Gamalis, Sabtu (1/11/2025).

Selain soal aktivitas malam hari, Gamalis menegaskan kawasan wisata halal nantinya juga harus bebas dari minuman beralkohol. Prinsip utamanya, kata dia, adalah menghadirkan kenyamanan bagi wisatawan yang ingin berlibur dalam suasana sesuai nilai-nilai syariah.

Baca Juga  Gamalis Pesan Arah Pembangunan Harus Sesuai Kebutuhan Rill

“Pariwisata tersebut harus terbebas dari minuman beralkohol. Hotel maupun resort di area itu juga harus syariah,” tegasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Ilyas Natsir menambahkan, pengaturan etika berpakaian bagi wisatawan juga menjadi bagian dari penerapan konsep wisata halal.

Meski demikian, ia menilai masyarakat Berau selama ini cukup terbuka dan wisatawan jarang berpenampilan terlalu terbuka.

“Para wisatawan juga perlu diatur cara berpakaiannya. Walaupun di Kabupaten Berau jarang wisatawan yang berpenampilan terlalu terbuka,” tuturnya.

Baca Juga  Pembangunan Turap Gurimbang Berproses, Komitmen Pemkab dalam Pemerataan di Lingkup Kampung

Komitmen menuju wisata halal juga terlihat dari sikap Bupati Berau yang kerap memberikan kain kepada wisatawan mancanegara yang datang dengan pakaian kurang sopan.

“Itu menjadi bentuk edukasi dan penghormatan terhadap nilai-nilai lokal tanpa mengurangi kenyamanan wisatawan,” jelas Ilyas.

Meski begitu, ia menegaskan kebijakan tersebut tidak akan diterapkan secara menyeluruh di semua kawasan wisata, melainkan pada lokasi-lokasi tertentu yang ditetapkan sebagai destinasi wisata halal. (/ADV)

Bagikan:
Berita Terkait