Gerbang Geopark Sangkulirang Mangkalihat Potensi Baru Berau, Pariwisata Berbasis Konservasi

Kamis, 22 Januari 2026 08:25 WITA

NEWSNUSANTARA, TANJUNG REDEB – Kabupaten Berau kian memperkuat posisinya sebagai salah satu pintu masuk utama pengembangan Geopark Sangkulirang Mangkalihat di Kalimantan Timur.

Geopark Sangkulirang Mangkalihat sendiri merupakan kawasan geologi terpadu dengan luas mencapai sekitar 1,8 juta hektare yang membentang di wilayah Kabupaten Berau dan Kutai Timur.

Kawasan ini dikenal sebagai salah satu wilayah karst terbesar di Indonesia, dengan ratusan gua, sungai bawah tanah, dan temuan lukisan purba yang menjadi bukti keberadaan manusia prasejarah.

Namun lebih dari sekadar kawasan geologi, konsep geopark membawa misi yang lebih luas, yakni mengintegrasikan pelestarian alam, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Artinya, geopark tidak hanya menjadi ruang konservasi, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan sektor pariwisata, UMKM, hingga ekonomi kreatif masyarakat sekitar.

Baca Juga  Di Sisa Jabatan yang Singkat Ismail Ingin Selesaikan Tantangan Keluhan Nelayan Soal Ilegal Fishing
Geopark Sangkulirang Mangkalihat, kawasan geologi dan karst terbesar dengan ratusan gua, sungai, dan lukisan temuan purba. (Illustrasi)

Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Muda Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Asri Taldo, menyebutkan bahwa di wilayah Berau terdapat 15 geosite, sementara di Kutai Timur ada 11 geosite yang masuk dalam kawasan geopark.

“Bupati Berau sudah membentuk tim teknis Geopark Sangkulirang Mangkalihat wilayah Berau. Tim ini diketuai langsung oleh Sekretaris Daerah dan melibatkan tim ahli serta beberapa OPD terkait,” jelas Asri. Kamis (22/1/2026) saat di temui di Disbudpar.

Baca Juga  Gamalis Tutup Festival Perahu Naga, Harap Bisa Digelar Rutin Tiap Tahun Sebagai Langkah Jaga Tradisi Budaya

Sebagai langkah awal penguatan branding, Pemkab Berau memanfaatkan sejumlah destinasi unggulan yang telah lebih dulu dikenal masyarakat, seperti Kraton Sambaliung, Museum Batiwakkal Gunung Tabur, Museum Batubara, hingga destinasi ekowisata Labuan Cermin. Destinasi-destinasi ini dirancang menjadi gateway branding atau wajah awal geopark di Berau.

“Geosite kita sebenarnya sudah memiliki daya tarik wisata yang lama dikembangkan. Dari sisi keterlibatan masyarakat dan sarana prasarana juga relatif siap,” ujarnya.

Ke depan, Asri berharap keberadaan geopark dapat mengubah pola kunjungan wisata di Berau. Tidak lagi sebatas wisata alam semata, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran tentang geologi, sejarah, dan lingkungan.

Baca Juga  Sekretaris Daerah Kabupaten Asahan Menerima Kunjungan dari Ombudsman RI Perwakilan Sumatera Utara

“Kita ingin Berau menjadi gerbang masuk Geopark Sangkulirang Mangkalihat. Sehingga wisatawan yang datang tidak hanya menikmati pantai dan pulau, tetapi juga mengenal kekayaan karst, gua, serta sejarah peradaban purba di kawasan ini,” pungkasnya.

Dengan konsep geopark, Berau tak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga menempatkan dirinya sebagai daerah yang menggabungkan konservasi, edukasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Reporter : Akmal I Editor : Edi

Bagikan:
Berita Terkait