NEWSNUSANTARA, TANJUNG REDEB – Perum Bulog Cabang Berau angkat bicara menanggapi ramainya perbincangan masyarakat terkait peredaran produk Beras Kita Premium di pasaran. Bulog menegaskan, keberadaan beras premium tersebut tidak akan mengganggu stabilitas harga beras maupun menggeser peran program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Asisten Manajer Operasional Bulog Berau, Ade Anggoro, menjelaskan bahwa Beras Kita bukanlah produk baru. Produksi dan distribusinya sudah berjalan sejak lama sebagai bagian dari upaya Bulog menyediakan beragam pilihan beras sesuai kebutuhan konsumen.

“Ini bukan hal baru. Beras Kita sudah lama diproduksi. Untuk distribusi ke distributor, saya tidak terlibat langsung,” ujarnya.
Menurut Ade, program SPHP tetap menjadi instrumen utama pemerintah dalam menjaga harga beras di pasaran. SPHP akan dikeluarkan saat terjadi kenaikan harga dan penyalurannya bergantung pada penugasan dari pusat.
“Penugasan SPHP saat ini masih berjalan sampai 31 Januari 2026. Biasanya nanti ada penugasan lanjutan di Februari,” jelasnya.
Menanggapi kekhawatiran bahwa Beras Kita Premium bisa merusak harga pasar, Ade menilai hal tersebut tidak berdasar. Ia menegaskan bahwa beras premium memiliki segmen tersendiri dan tidak menyasar konsumen yang sama dengan SPHP.
“Beras premium itu sudah ada kelasnya. Harga head premium sudah diatur Rp15.400, tapi kualitasnya beragam. Ada yang dipoles satu kali, dua kali, sampai yang sangat mengkilap seperti merek tertentu yang harganya bisa di atas Rp19 ribu,” terangnya.
Ia menambahkan, perbedaan harga sangat dipengaruhi oleh proses pengolahan. Semakin tinggi kualitas, maka biaya produksi juga semakin besar.
“Bukan cuma biaya distribusi, tapi juga biaya pengolahannya. Itu yang membuat harga beras premium berbeda di pasaran,” tambah Ade.
Dengan segmentasi yang jelas tersebut, Bulog memastikan Beras Kita Premium tidak akan menjadi pesaing SPHP. Justru kehadirannya dianggap melengkapi pilihan masyarakat.
“SPHP tetap untuk menjaga harga di level bawah, sementara Beras Kita Premium untuk segmen tertentu. Jadi bukan saling menyingkirkan, tapi saling melengkapi,” pungkasnya.
Reporter : Akmal I Editor : Edi





