NEWSNUSANTARA.COM, BERAU – Tumpukan sampah dari rumah tangga, pengunjung dan sampah yang hanyut di Pulau Derawan menjadi perhatian sejumlah pihak. Kondisi seperti itu dirasakan lantaran jumlahnya terus meningkat, Kamis (11/9/2025).
Sementara lokasi pembuangannya sulit didapat. Lebih miris lagi, kondisi ini terjadi di kawasan destinasi wisata unggulan Bumi Batiwakkal.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pihak ketiga bernama World Wide Fund for Nature (WWF) berinisiatif membangun TPS3R atau tempat pengolahan sampah yang dirancang dengan metode reduce (pengurangan), reuse (pengunaan kembali) serta recycle (daur ulang).
Wakil Bupati Berau Gamalis berkesempatan melakukan peletakan batu pertama, sebagai tanda dimulainya pembangunan. Dirinya cukup yakin TPS3R tersebut dapat menjadi metode yang baik dalam mengurangi volume sampah di Pulau Derawan.
“Derawan merupakan salahsatu destinasi wisata bahari unggulan yang dimiliki Berau, sehingga apabila sampah tidak dapat ditangani dengan baik, maka dapat mengurangi nilai keeksotisannya,” katanya.
Orang nomor dua di Berau itu pun mengapresiasi, kerjasama antara stakeholder bersama pemerintahan kampung dalam pembangunan TPS3R tersebut. Apalagi, SDM pengelolanya memanfaatkan masyarakat kampung.
Menurutnya, prinsip pengelolaan sampah melalui pendekatan 3R akan sangat penting dalam mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sekaligus membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan sampah yang bisa didaur ulang.
Dari data Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) sampah di Pulau Derawan yang dihasilkan mencapai 30-40 ton per bulannya. Namun dengan konsep 3R tadi, lembaga swadaya masyarakat (LSM) berkomitmen dapat menguraikan sampah hingga 20 persen.
“Sebagaimana rencananya, TPS3R ini akan dibangun sebanyak 15 titik, tersebar di 13 kecamatan dan 2 kampung yakni, Pulau Derawan dan Maratua,” bebernya.
Dua kampung tersebut, kata Gamalis menjadi sasaran utama sebab merupakan kawasan destinasi kelas dunia. Sehingga menurutnya sangat tidak etis, apabila keadaan sampah di wilayah wisata menjadi tercoreng di mata turis ketika ada sampah yang masih belum tertangani dengan baik.
“Ini yang terus menjadi pekerjaan rumah Pemkab, jadi harapan saya proyek ini bisa berjalan dengan baik,” tandasnya.
Saat ini penanganan sampah di Pulau Derawan dilakukan secara manual. Yakni dengan mengambil satu demi satu kantong sampah dari rumah warga.
Selanjutnya, diangkut dengan menggunakan kapal menuju tempat pembuangan akhir (TPA) yang berlokasi di Kampung Tanjung Batu.
(MGN/ADV)





