NEWSNUSANTARA.COM,BERAU – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Berau terus mempersiapkan diri menjelang pelaksanaan sensus pertanian yang akan berlangsung mulai 1 Juni hingga 31 Juli mendatang. Hal ini dilakukan sesuai dengan arahan langsung dari Presiden RI Joko Widodo, yang memandang sensus pertanian sebagai basis data penting untuk sektor pertanian nasional, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1997 tentang Statistik.
Kepala BPS Berau, Supriyanto, menjelaskan bahwa sensus pertanian dilakukan setiap tahun dengan tahun berakhiran angka tiga. Untuk sensus pertanian di Berau, akan melibatkan 179 petugas yang tersebar di 13 Kecamatan. Jumlah petugas tersebut terdiri dari 133 orang petugas pendataan lapangan (PPL), 23 orang petugas pemeriksa lapangan (PML), dan 13 orang koordinator pelaksana (koseka).

“Karena keterbatasan pegawai, kami menggandeng masyarakat sebagai mitra lapangan untuk membantu pendataan di wilayah yang luas. Namun, koordinator pelaksana tetap berasal dari petugas BPS,” ungkap Supriyanto.
Lebih lanjut, Supriyanto menjelaskan bahwa sensus pertanian ini bertujuan untuk menghadapi tantangan dan kebijakan pertanian di masa depan. Data yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan yang berkaitan dengan sektor pertanian.
BPS akan menyajikan beberapa data hasil sensus, antara lain jumlah petani, luas lahan pertanian yang dibagi menjadi lahan milik sendiri dan lahan yang dikelola oleh petani lain. Data ini akan berguna bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan distribusi subsidi pupuk, bibit, dan bantuan untuk kesejahteraan petani.
“Selain itu, data ini juga akan membantu untuk mengetahui struktur luas lahan petani yang dapat dikolaborasikan dengan status luas wilayah pada masing-masing Kecamatan dan Kelurahan di Kabupaten Berau,” tambahnya.
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh BPS Berau sejak awal sensus pertanian pada tahun 1993, jumlah rumah tangga usaha pertanian masih mencapai 8.000 jiwa. Pada tahun 2003, jumlahnya meningkat menjadi 15.728 jiwa, dan pada tahun 2013, angkanya turun menjadi 15.055 jiwa. Data juga menunjukkan bahwa pada tahun 2018, mayoritas kepala rumah tangga usaha pertanian berusia 40 tahun, sementara sektor pertanian yang dominan adalah subsektor tanaman pangan dan perkebunan. MK





