Ketua APTISI & SEVIMA Kolaborasi Pecahkan Kesenjangan Digital di Kampus

Selasa, 4 Juli 2023 12:36 WITA
FOTO:

NEWSNUSANTARA.COM,SURABAYA (04/07) – Di Indonesia, fenomena Kesenjangan Digital kini tengah menjadi perhatian, termasuk di dunia pendidikan tinggi. Beberapa kampus memiliki fasilitas digital yang lengkap dengan sistem akademik internal yang memakan biaya miliaran rupiah. Namun, masih ada banyak kampus yang terbatas fasilitas digitalnya karena keterbatasan dana.

Kampus-kampus dengan fasilitas digital terbatas ini terpaksa masih menggunakan papan tulis dan menghadapi proses pendaftaran serta pembayaran kuliah yang memakan waktu dan melelahkan di bawah terik matahari. Semua proses administrasi dan birokrasi masih mengandalkan tumpukan kertas secara manual.

Yang lebih mengkhawatirkan, situasi ini bukan hanya terjadi di daerah terluar Indonesia, tetapi juga di Pulau Jawa, terutama di kampus-kampus swasta dengan jumlah mahasiswa yang sedikit. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Budi Djatmiko, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI), dan Andry Huzain, Chief Marketing Officer SEVIMA, dalam kolaborasi yang terjadi dalam Webinar SEVIMA pada Selasa (04/07). Webinar ini dihadiri oleh 5.000 rektor dan dosen dari seluruh Indonesia dan diselenggarakan secara gratis.

FOTO:Perguruan Tinggi, SEVIMA bersama Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta se Indonesia (APTISI) Dr. Budi Djatmiko, dengan aplikasi gratis berbasis komunitas “SEVIMA Platform”

“Kondisi ini disebut sebagai kesenjangan digital. Kampus-kampus tidak terpisahkan oleh jarak, melainkan oleh kemampuan digital. Dampaknya sangat serius, kampus yang telah melakukan digitalisasi, terutama kampus negeri, memiliki jutaan pendaftar. Sementara kampus-kampus kecil yang tidak melakukan digitalisasi akan tertinggal, akhirnya jumlah pendaftar dan kemampuan keuangan semakin berkurang, dan semakin sulit untuk melakukan digitalisasi. Kampus seharusnya ada di cloud, berada di awan!” ungkap Budi Djatmiko.

Baca Juga  Masyarakat Berau Mempertanyakan Efektivitas Mesin Penyedot Lumpur dalam Mengatasi Banjir

Untuk mengatasi kesenjangan digital ini, SEVIMA hadir sebagai solusi dengan menyajikan alternatif terbaru. Digitalisasi kini tidak harus dilakukan oleh kampus dengan membuat aplikasi sendiri, melainkan dengan menggunakan aplikasi dari SEVIMA yang tidak memerlukan pembelian server fisik. Semuanya berbasis Cloud dan telah memiliki sertifikasi keamanan internasional.

Secara teknis, aplikasi ini menggunakan konsep Software as a Service (SaaS). Dengan disrupsi biaya dan teknologi ini, SEVIMA telah melayani lebih dari 800 kampus dan 3 juta mahasiswa di seluruh Indonesia.

“Ide awal kami adalah SEVIMA sebagai Teknologi Pendidikan yang didirikan sejak tahun 2003, bekerja pada proyek sistem akademik untuk kampus-kampus besar. Ternyata, masalah dan solusinya antar kampus relatif serupa. Jadi, mengapa tidak mengembangkan satu aplikasi saja yang dapat digunakan oleh semua kampus? Inilah mengapa kami menciptakan SEVIMA Platform dengan konsep SaaS dan berbasis Cloud, bahkan tersedia secara gratis melalui versi Community,” ungkap Andry Huzain, Chief Marketing Officer SEVIMA, yang juga merupakan mantan direktur Detik.com dan MNC.

Baca Juga  Dinkes Bingung, Hasil Swab Berubah

Kolaborasi ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan digital di kampus-kampus dengan menyediakan Sistem Akademik berbasis Software as a Service (SaaS) yang dikembangkan oleh Education Technology SEVIMA. SEVIMA Platform merevolusi digitalisasi kampus dengan menyediakan solusi untuk berbagai masalah administrasi kampus, termasuk proses penerimaan mahasiswa, pembayaran kuliah, pembelajaran online, akreditasi, penerbitan ijazah, hingga pelaporan data kampus kepada pemerintah. Semua proses tersebut dapat berlangsung secara otomatis dan terintegrasi melalui SEVIMA Platform.

Kehadiran SEVIMA juga membantu mendemokratisasi digitalisasi dan integrasi proses bisnis pengelolaan kampus dengan memungkinkan akses yang luas. Aplikasi ini dapat diakses melalui laptop maupun ponsel.

_Company Profile SEVIMA

“Salah satu bagian dari ekosistem platform kami, yaitu SevimaPay, juga berfungsi sebagai payment aggregator di 800 kampus, sehingga mahasiswa dapat membayar uang kuliah melalui minimarket. Hal ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sangat berarti bagi mahasiswa yang sebelumnya harus membayar secara manual di kampus dan tidak memiliki akses ke perbankan. Inilah cara kami untuk mengatasi kesenjangan digital,” jelas Andry Huzain.

Baca Juga  Asisten I Pemkab Kukar Lantik Anggota BPD Tani Baru

Melalui kerjasama dan semangat gotong royong, SEVIMA berusaha mengubah paradigma bahwa digitalisasi harus menjadi hak semua orang dan setiap kampus. SEVIMA telah membentuk Komunitas SEVIMA yang bersifat organik dan berasal dari bawah, dengan grup Facebook yang terdiri dari lebih dari 5.000 operator IT di kampus.

“Komunitas ini saling bertukar pengalaman dan memberikan masukan pengembangan, menyebarkan informasi tentang SEVIMA, menyediakan beasiswa kuliah S1 gratis bersama dengan menteri dan pejabat tinggi negara, serta rutin mengadakan jaringan dan acara Seminar dan Webinar berskala nasional. Hingga saat ini, SEVIMA memegang Rekor MURI sebagai Webinar dengan jumlah peserta Rektor terbanyak di Indonesia,” lanjut Andry Huzain.

SEVIMA akan terus berjuang untuk mendemokratisasikan akses digital di kampus sesuai dengan misi perusahaan, yaitu #RevolutionizeEducation. Saat ini, SEVIMA memiliki 220 karyawan dan berkantor pusat di Surabaya, Jawa Timur.

“Terdapat sekitar 4.500 kampus di Indonesia, dan sekitar 800 kampus telah menggunakan SEVIMA. Komitmen kami sangat kuat untuk memperluas demokratisasi kampus dan merevolusi pendidikan tinggi. Akses digital harus tersedia untuk semua orang dan semua kampus tanpa terkecuali!” pungkas Andry Huzain.

Reporter :Hamzah/Editor:Edy

Bagikan:
Berita Terkait