Pengangguran Tinggi, Peluang Sawit di Berau Tak Dilirik

Kamis, 2 April 2026 07:24 WITA
Pengangguran Tinggi, Peluang Sawit di Berau Tak Dilirik

NEWSNUSANTARA BERAU- Minimnya minat tenaga kerja lokal terhadap sektor perkebunan kelapa sawit menjadi sorotan di Kabupaten Berau.

Di tengah tingginya angka pengangguran, peluang kerja yang sebenarnya tersedia justru tidak dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat setempat.

Data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Berau menunjukkan bahwa kebutuhan tenaga kerja di sektor sawit cukup besar. Namun, sebagian besar lowongan tersebut tidak diisi oleh warga lokal, melainkan oleh pekerja dari luar daerah seperti Nusa Tenggara dan Sulawesi.

Pengangguran Tinggi, Peluang Sawit di Berau Tak Dilirik

Fenomena ini tidak lepas dari kecenderungan pencari kerja yang lebih memprioritaskan sektor pertambangan. Padahal, selain jumlahnya terbatas, persaingan di industri tambang juga semakin ketat dengan tuntutan kualifikasi yang tinggi.

Baca Juga  Asahan Targetkan 40 Dapur Gizi, Pengawasan Program Diperketat

Kondisi ini kerap memicu persoalan dalam proses rekrutmen karena tidak semua pelamar mampu memenuhi standar perusahaan.

Wakil Ketua I DPRD Berau, Subroto, menilai sikap selektif dalam memilih pekerjaan justru mempersempit peluang masyarakat untuk mendapatkan penghasilan. Ia menegaskan bahwa sektor perkebunan seharusnya dapat menjadi alternatif yang menjanjikan untuk menekan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT).

“Peluangnya ada, tapi tidak dimanfaatkan,” ujarnya singkat.

Menurutnya, berdasarkan catatan Disnakertrans tahun sebelumnya, terdapat sekitar 500 kebutuhan tenaga kerja di sektor sawit. Namun, jumlah pelamar dari kalangan lokal masih sangat terbatas dibandingkan kebutuhan tersebut.

“Ini yang jadi persoalan kita hari ini,” katanya.

Baca Juga  Peluncuran 80 Ribu Koperasi Merah Putih Serentak, Khusus Berau Upayakan ada Pengembangan Kapasitas SDM

Ia juga menyoroti tingginya ekspektasi masyarakat terhadap sektor pertambangan yang tidak selalu sebanding dengan peluang yang tersedia. Proses seleksi yang ketat dan spesifik di industri tambang sering kali membuat banyak pencari kerja tidak terserap, sehingga menimbulkan kekecewaan bahkan potensi gesekan sosial.

“Tidak semua bisa masuk tambang,” tegasnya.

Di sisi lain, peluang kerja di sektor sawit yang relatif lebih terbuka justru kurang diminati. Kondisi ini dinilai sebagai ironi, mengingat kebutuhan tenaga kerja cukup besar dan dapat menjadi solusi jangka pendek bagi persoalan pengangguran di daerah.

“Jangan tunggu yang sulit, yang ada justru dilewatkan,” tambah Subroto.

Baca Juga  MTQ ke-55 Kecamatan Sambaliung Resmi Dibuka, Sekda Berau Ajak Warga Perkuat Syiar Al-Qur’an

Subroto mendorong generasi muda Berau untuk lebih terbuka dalam melihat peluang kerja di berbagai sektor. Ia juga meminta Disnakertrans agar terus melakukan sosialisasi terkait prospek kerja di industri perkebunan, sehingga stigma sebagai pekerjaan “kelas dua” dapat dihilangkan.

Menurutnya, ketergantungan pada satu sektor ekonomi tidak akan mampu menciptakan kemandirian daerah. Diversifikasi pilihan kerja menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat.

“Yang penting kerja dan produktif,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan agar setiap peluang kerja yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, terutama dalam situasi lapangan kerja yang terbatas.

“Jangan pilih-pilih pekerjaan,” pungkasnya.

Reporter: Marta Tongsay | Editor: Hendra

Bagikan:
Berita Terkait