Temuan Kasus HIV di Berau, Kepala Puskesmas Tanjung Redeb Ingatkan Pentingnya Menghindari Stigma

Senin, 26 Januari 2026 03:38 WITA

NEWSNUSANTARA BERAU- Kepala Puskesmas Tanjung Redeb, Tutut Andayani, mengungkapkan adanya sejumlah kasus HIV/AIDS yang ditemukan di wilayah kerjanya.

Meski demikian, ia menekankan pentingnya sikap bijak masyarakat dalam menyikapi keberadaan penderita HIV/AIDS agar tidak berujung pada pengucilan sosial.

Menurut Tutut, stigma dan diskriminasi justru berpotensi menghambat upaya penanganan serta menurunkan peluang kesembuhan dan kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Karena itu, ia mendorong pendekatan yang lebih manusiawi dan berbasis pemahaman.

Baca Juga  Dorong Pemandu Wisata Berau Punya Sertifikat Profesi

“Penderita HIV/AIDS tidak seharusnya dikucilkan. Mereka perlu diakomodasi dan didampingi secara bijak agar tingkat kesembuhan dan kualitas hidupnya semakin baik,” kata Tutut, Senin (26/1/2026).

Puskesmas Tanjung Redeb, di Jalan Rambutan, Tanjung Redeb.

Tutut menjelaskan, sebagian kasus HIV memang berkaitan dengan perilaku berisiko atau penyimpangan sosial yang dilakukan pada masa lalu. Namun, ia mengingatkan bahwa tidak semua kasus dapat disederhanakan dengan asumsi tersebut. Ada berbagai faktor lain yang kerap luput dari pemahaman masyarakat umum.

Baca Juga  Pangdam Brawijaya Menjadi Pelopor dalam Upaya Cegah Abrasi dengan Penanaman Mangrove

“Masih ada anggapan bahwa HIV selalu disebabkan oleh hal-hal yang sama. Padahal, faktor penularannya bisa beragam dan tidak selalu seperti yang dipikirkan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti peran media arus utama dan masyarakat luas agar tidak terjebak pada narasi penghakiman terhadap penderita HIV/AIDS. Menurutnya, pemberitaan dan percakapan publik yang sarat stigma justru dapat memperburuk kondisi psikologis ODHA dan membuat mereka enggan mengakses layanan kesehatan.

Baca Juga  Penguatan Zakat di Asahan Diakui Nasional, Bupati Dianugerahi BAZNAS Awards 2025

Tutut berharap, dengan edukasi yang berkelanjutan dan pemberitaan yang lebih sensitif, masyarakat dapat membangun empati sekaligus memahami bahwa HIV/AIDS merupakan persoalan kesehatan publik yang harus ditangani bersama, bukan dijadikan alasan untuk mengucilkan atau mendiskriminasi.

Reporter: Marta Tongsay | Editor: Edi

Bagikan:
Berita Terkait