‎Krisis Air Bersih Masih Bayangi Maratua, Embung CSR Belum Berfungsi Optimal

Senin, 24 November 2025 11:23 WITA
Camat Maratua, Ariyanto

NEWSNUSANTARA,MARATUA-Ketersediaan air bersih masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan bagi sebagian warga Kecamatan Maratua, khususnya di Kampung Teluk Alulu dan Bohe Silian. Hingga kini, masyarakat di dua wilayah tersebut masih bergantung pada air hujan sebagai sumber utama kebutuhan sehari-hari.

Camat Maratua, Ariyanto, membenarkan bahwa kesulitan air bersih masih menjadi masalah nyata bagi warganya.

“Memang di Kampung Teluk Alulu dan Bohe Silian itu masih ada yang kesulitan air bersih. Sampai sekarang mereka masih berharap dari air hujan,” ucapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca Juga  SSB Naraga Ciater Binaan TMMSDiapresiasi Staf Khusus KSAD Brigjen TNIAminudin
Camat Maratua, Ariyanto

Sebagai upaya pemenuhan kebutuhan air bersih, pemerintah kecamatan bersama pihak ketiga melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan ABL telah membangun sebuah embung penampung air hujan. Namun, fasilitas tersebut belum dapat dimanfaatkan sepenuhnya karena mengalami kerusakan.

“Embung itu dibangun dari CSR pihak ketiga ABL. Tapi ada kendala, embungnya harus diperbaiki karena ada retak di bagian bawah sehingga saat menampung air hujan masih merembes,” jelas Ariyanto.

Meski belum optimal, embung tersebut masih dapat digunakan sementara untuk menampung air hujan. Ariyanto menyebut warga Teluk Alulu telah lama memiliki pola adaptasi tersendiri dalam mengelola persediaan air, bahkan jauh sebelum embung dibangun.

Baca Juga  Meningkatnya Keberadaan Organisasi Kemasyarakatan dan Paguyuban Adat Budaya di Kabupaten Berau

Warga biasanya menyiapkan banyak tandon untuk menampung air hujan yang kemudian diatur penggunaannya untuk beberapa bulan ke depan. Sementara itu, untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus, mereka biasanya mengambil air dari wilayah Teluk Harapan.

“Mereka sudah tahu cara memakainya supaya tidak cepat habis. Untuk konsumsi pakai air hujan, sedangkan mandi dan mencuci mengambil air ke Teluk Harapan,” tambahnya.

Terkait pembangunan embung tersebut, Ariyanto menegaskan bahwa seluruh pelaksanaannya ditangani langsung pihak ketiga sehingga pihak kecamatan tidak mengetahui detail anggarannya.

Baca Juga  BI Kaltara Dorong Ekonomi Tetap Stabil dengan Sinergitas Antar Daerah

“Kami kurang tahu biayanya, karena itu murni CSR dari ABL. Kampung hanya menyiapkan lahan,” ujarnya.

Setelah pembangunan selesai, aset embung kini berada di bawah kewenangan pemerintah kampung. Mereka diharapkan dapat menindaklanjuti perbaikan demi memastikan fasilitas ini dapat berfungsi maksimal.

Ariyanto menegaskan masyarakat Teluk Alulu maupun Bohe Silian bukan menolak fasilitas air bersih, melainkan terbiasa dengan pola pemanfaatan air hujan yang sudah berlangsung turun-temurun.

“Betul, bukan menolak. Mereka memang sudah terbiasa menggunakan air hujan,” tutupnya.

Reporter: Akmal//Editor:Edi

Bagikan:
Berita Terkait