Mangrove Jadi Alternatif Penahan Abrasi di Biduk-Biduk

Rabu, 16 Juli 2025 09:01 WITA

NEWSNUSANTARA.COM,BERAU-Dinding pemecah ombak sekaligus penahan abrasi pantai sepanjang 165 meter resmi berdiri di Kampung Teluk Sulaiman, Kecamatan Biduk-Biduk. Pembangunan yang menelan anggaran Rp4 miliar dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur ini diharapkan mampu melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi yang kian parah.

Data mencatat, panjang kawasan pantai di Kabupaten Berau yang terancam abrasi mencapai 29,30 kilometer, dengan kondisi kritis sepanjang 12 kilometer. Namun, sejauh ini, baru sekitar 2,2 kilometer yang berhasil tertangani. Kondisi tersebut menempatkan Berau sebagai daerah paling kritis menghadapi abrasi di Kaltim.

Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, menegaskan pihaknya berkomitmen mencari solusi berkelanjutan dalam penanganan pantai. “Akan kami benahi dengan tindakan preventif,” ujar Harum—sapaan akrab Rudy—usai meninjau destinasi wisata Labuan Cermin, Biduk-Biduk, Selasa (15/7/2025).

Baca Juga  Bupati Asahan Harap Aksi Bergizi di Sekolah Melahirkan Generasi yang Sehat

Selain pembangunan fisik, Harum menilai alternatif terbaik adalah penanaman mangrove dan bakau di sepanjang garis pantai. Program ini dianggap lebih hemat biaya sekaligus memberikan manfaat ekologis. “Mangrove lebih efektif menahan ombak besar. Selain itu, bisa menjadi tempat berkembang biak biota laut seperti ikan, udang, dan kepiting. Ekosistem tetap baik, lautnya hijau dengan bakau dan mangrove,” ungkapnya.

Meski demikian, pemerintah tetap berupaya menemukan model pemecah ombak yang lebih efisien. “Kita cari model yang sama seperti pantai di Jakarta dan Balikpapan,” tambahnya.

Baca Juga  Sambut HPSN, Polres Berau Peduli dan Berbagi

Bupati Berau, Sri Juniarsih, menyatakan dukungan penuh terhadap pola penanganan yang lebih komprehensif. Menurutnya, penanaman mangrove akan disinergikan dengan program pembangunan jalan dan dinding penahan ombak. “Semoga kita dapat bantuan keuangan lebih besar dari Pemprov Kaltim ke depan untuk membangun ini,” ujarnya.

Kepala Kampung Giring-Giring, Sarlina, juga menyampaikan bahwa masyarakat setempat rutin menanam mangrove setiap tahun. Ia berharap program tersebut bisa berjalan lebih masif dengan dukungan bibit dan tenaga penanam. “Kami juga berharap dinding pemecah ombak bisa dilanjutkan di sepanjang pantai Biduk-Biduk,” katanya.

Baca Juga  DPUBM Alokasikan Sebesar Rp 22 Miliar Untuk Perbaikan Jembatan Rusak

Dengan kombinasi pembangunan fisik dan penanaman mangrove, pemerintah daerah optimistis mampu menekan ancaman abrasi yang mengintai kawasan pesisir Berau.(MRk)ADV

Bagikan:
Berita Terkait