NEWSNUSANTARA, BERAU-Upaya Pemerintah Kabupaten Berau memasukkan Bahasa Banua sebagai mata pelajaran muatan lokal (Mulok) di sekolah mendapat respons positif dari legislatif. Anggota Komisi I DPRD Berau, Feri Kombong, menilai kebijakan tersebut sebagai langkah penting dalam memperkuat fondasi kebudayaan daerah yang mulai tergerus perkembangan zaman.
Menurut Feri, generasi muda saat ini dihadapkan pada lunturnya minat terhadap bahasa daerah akibat dominasi budaya digital. Ia menilai sekolah menjadi ruang paling strategis untuk memastikan bahasa dan nilai lokal tetap diwariskan secara terstruktur.

“Mulok Bahasa Banua adalah langkah nyata untuk menghidupkan kembali identitas kedaerahan. Anak-anak harus diajak mengenal dan menggunakannya, bukan hanya mengetahui namanya,” kata Feri.
Meski mendukung, Feri menegaskan perlunya kesiapan matang agar mata pelajaran tersebut tidak sekadar menjadi program simbolis. Ia menyoroti pentingnya penyusunan kurikulum yang relevan dan metode pembelajaran yang membuat siswa tertarik.
Ia menilai pemerintah harus menyiapkan materi ajar yang komprehensif, mulai dari dasar-dasar bahasa, kosakata, hingga pengenalan budaya Banua secara ringan dan mudah dipahami. Selain itu, kompetensi guru juga menjadi faktor penentu keberhasilan.
“Jika guru tidak siap mengajar, maka murid tidak akan menerima manfaatnya dengan optimal. Pemerintah harus memastikan pelatihan dan pembekalan dilakukan secara menyeluruh,” tegasnya.
Feri menambahkan, keberadaan Bahasa Banua di sekolah harus dibarengi evaluasi berkala agar pelaksanaan Mulok benar-benar sesuai tujuan. Ia berharap program ini turut mendorong munculnya minat baru di kalangan siswa untuk mempelajari identitas daerah mereka.
“Pembelajaran bahasa bukan hanya soal bicara, tapi memahami jiwa dan nilai masyarakat setempat. Jika ini dijalankan konsisten, karakter generasi muda Berau akan tetap terjaga,” pungkasnya.(ADV)





