NEWSNUSANTARA BERAU- Kerusakan pada landmark “Berau” di kawasan Tepian Sungai Segah menuai sorotan. Huruf “B” pada ikon tersebut dilaporkan hilang, sehingga tulisan yang tersisa kini terbaca “erau”. Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait perawatan fasilitas publik yang selama ini menjadi simbol kota.
Landmark tersebut dikenal sebagai salah satu titik favorit warga dan wisatawan untuk berfoto. Namun, kerusakan yang tampak jelas ini justru menimbulkan kesan kurang terawat dan dinilai mengurangi nilai estetika kawasan tepian.

Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, mengaku baru mengetahui insiden tersebut. Ia menilai lemahnya pengawasan menjadi faktor utama yang menyebabkan kerusakan fasilitas publik di area tersebut.
“Pengawasan kita masih kurang. Padahal anggaran untuk penataan kawasan tepian sudah cukup besar, tetapi masih ada fasilitas yang rusak,” ujarnya.
Ia juga tidak menutup kemungkinan adanya unsur kesengajaan dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Untuk itu, ia meminta agar sistem pengamanan di kawasan tersebut diperkuat.
“Jangan sampai kejadian seperti ini terulang. Pos penjagaan sebenarnya sudah ada, tetapi belum difungsikan secara maksimal,” tegasnya.
Selain itu, ia turut menyoroti kondisi sekitar landmark yang dinilai kurang tertib. Keberadaan kendaraan roda dua yang parkir tepat di depan ikon kota disebut mengganggu keindahan sekaligus fungsi kawasan sebagai ruang publik.
Dedy berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, baik dengan memperbaiki kerusakan maupun meningkatkan pengawasan. Ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar hilangnya satu huruf, melainkan menyangkut upaya menjaga identitas dan aset daerah.
“Ini bukan hanya soal huruf yang hilang, tapi soal bagaimana kita merawat identitas daerah,” pungkasnya.
Reporter: Marta Tongsay | Editor:





