Ikon Kota Rusak, DPRD Soroti Lemahnya Pengawasan di Tepian Segah

Minggu, 5 April 2026 08:38 WITA
Ketua DPRD Berau, Dedy Okto

NEWSNUSANTARA BERAU- Kerusakan pada landmark “Berau” di kawasan Tepian Sungai Segah menuai sorotan. Huruf “B” pada ikon tersebut dilaporkan hilang, sehingga tulisan yang tersisa kini terbaca “erau”. Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait perawatan fasilitas publik yang selama ini menjadi simbol kota.

Landmark tersebut dikenal sebagai salah satu titik favorit warga dan wisatawan untuk berfoto. Namun, kerusakan yang tampak jelas ini justru menimbulkan kesan kurang terawat dan dinilai mengurangi nilai estetika kawasan tepian.

Baca Juga  Wakil Bupati Asahan Buka Pelatihan Manajemen Ritel dan Kurasi Produk UMKM
Huruf “B” pada ikon Berau Hilang

Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, mengaku baru mengetahui insiden tersebut. Ia menilai lemahnya pengawasan menjadi faktor utama yang menyebabkan kerusakan fasilitas publik di area tersebut.

“Pengawasan kita masih kurang. Padahal anggaran untuk penataan kawasan tepian sudah cukup besar, tetapi masih ada fasilitas yang rusak,” ujarnya.

Ia juga tidak menutup kemungkinan adanya unsur kesengajaan dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Untuk itu, ia meminta agar sistem pengamanan di kawasan tersebut diperkuat.

Baca Juga  SKI Berau Berada di Angka 21 Persen, Pemkab Optimis Turunkan Kasus Stunting di 2024

“Jangan sampai kejadian seperti ini terulang. Pos penjagaan sebenarnya sudah ada, tetapi belum difungsikan secara maksimal,” tegasnya.

Selain itu, ia turut menyoroti kondisi sekitar landmark yang dinilai kurang tertib. Keberadaan kendaraan roda dua yang parkir tepat di depan ikon kota disebut mengganggu keindahan sekaligus fungsi kawasan sebagai ruang publik.

Baca Juga  Mata Air Sumber Jeruk Karangsuko Pagelaran Dukung SPAM Untuk Atasi Problem Malang Selatan

Dedy berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret, baik dengan memperbaiki kerusakan maupun meningkatkan pengawasan. Ia menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar hilangnya satu huruf, melainkan menyangkut upaya menjaga identitas dan aset daerah.

“Ini bukan hanya soal huruf yang hilang, tapi soal bagaimana kita merawat identitas daerah,” pungkasnya.

Reporter: Marta Tongsay | Editor:

Bagikan:
Berita Terkait